pojokkamar

09 April 2014

Skandal

Saya tidak mampu nyaleg. 
Nyaleg butuh uang, butuh tampang, butuh keterampilan politik, butuh retorika. Saya tak punya semua itu

"Gapapa yang penting punya dukungan suara bro!"
Hehe, suara rakyat sekarang mahalll. Mereka butuh uang buat makan. Mereka kelaparan. Subsidi mereka dicabut lalu dipakai jalan2 ke Eropa, pajak yang mereka bayar dikorup. Mereka sudah terlalu banyak dikecewakan.

Bagi politikus, pemilu adalah pertarungan. Tapi bagi rakyat, ini adalah pertaruhan dimana mereka selalu sengaja dihadirkan sebagai yang kalah. Rakyat mulai menyadari itu, dan akhirnya jumud dan jenuh. Kini, suara rakyat negeri ini bukan lagi suara Tuhan, melainkan nyanyian perut keroncongan. Wajar jika tak lagi bisa mengharapkan idealisme mereka. Logika rakyat tak berfungsi baik tanpa logistik. Salahkah mereka?

*Semangat politik hari ini transaksional. Politikus dan rakyat sama-sama terjebak dalam pusaran SKANDAL.

Makassar, 9 April 2014

03 April 2014

EVERY DAY CARRY

Saat bepergian saya selalu membawa beberapa kunci. Kunci ini ada yang saya satukan salam sebuah ring lalu diberi karabiner, ada juga kunci yang digantungkan paracord (tali parasut) yang telah dianyam sedemikian rupa. Saya tidak selalu bisa memperkirakan dengan pasti kapan saya harus menggunakannya, namun saya selalu membawanya di saku, tas, atau digantung di ikat pinggang. Kunci, karabiner, maupun paracord yang sering saya bawa ke mana-mana tersebut dikenal dengan sebutan every day carry (EDC). 


EDC adalah istilah yang digunakan untuk beberapa jenis barang kecil yang kita bawa sehari-hari. EDC ini kita butuhkan mulai untuk menunjang pekerjaan sehari-hari, hingga bahkan untuk membantu kita mengatasi situasi darurat. Secara umum EDC memiliki bentuk yang kompak dengan ukuran yang kecil sehingga muat di saku, dalam tas, atau digantungkan pada pakaian yang dikenakan seperti ikat pinggang. Meskipun kecil, EDC ini memiliki kemampuan dan ketahanan yang dapat diandalkan. Bentuk yang kompak dan ukuran yang kecil semata-mata dimaksudkan agar kita tidak kesulitan membawanya. Contoh EDC kompak namun kecil yang sangat populer adalah multitool Victorinox atau biasa juga disebut pisau lipat Victorinox. Semasa kecil saya dulu, pisau ini dikenal dengan sebutan pisau MacGyver. Ukurannya pas di saku dan memiliki banyak fungsi seperti pisau, gunting, obeng, pembuka botol atau kaleng, dan tang kecil. 

Beda orang, beda pula EDC nya. Pilihan EDC ini banyak dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, kebiasaan, kondisi, dan lingkungan seseorang. Selain itu, penyusunan EDC ini biasanya dasari semangat bersiap untuk menghadapi situasi yang tidak terduga dan darurat. Semangat inilah yang paling banyak mempengaruhi pilihan EDC saya. Beberapa item pilihan tersebut adalah: 
• Zippo windproof lighter                                 • Senter Nitecore Sens CR 
• Multitool Leatherman Charge Tti                  • Pluit ITW Marine 
• Military ID Tag                                              • Samsung Galaxy Note I dengan case Enigma 
• 8800 mAh Hippo Powerbank                        • HP Flashdrive 4 GB 
• Beberapa kunci dengan ring dan karabiner   • Paracord Lanyard 
• 50 ft Paracord 550                                         • Kabel Data
• Beberapa pecahan mata uang rupiah. 

EDC merupakan peralatan, perlengkapan, atau persediaan yang bersifat personal. Jika ada yang EDC nya jauh berbeda dengan apa yang saya miliki, itu wajar-wajar saja. Bagi yang ingin memulai menyusun EDC, selain melengkapi kebutuhan personal, item-item berikut perlu dipertimbangkan untuk dimiliki. Mana yang paling cocok dan penting, tergantung orangnya. Item berikut ini hanyalah barang-barang yang paling sering hadir dalam EDC orang-orang kebanyakan:
• Senter
• Pisau lipat (sangat tidak dianjurkan di Indonesia)
• Multitool
• Pemantik api
• Peluit
• Arloji
• Handphone
• Paracord bracelet
• Medical kit

Yang harus diingat dalam menyusun EDC, jangan memilih barang dengan kualitas buruk. Pilihlah barang dengan kualitas yang teruji. Barang dengan kualitas buruk justru hanya akan mengecewakan penggunanya disaat ia benar-benar dibutuhkan. Selain itu, jangan membawa terlalu banyak item sebagai EDC anda. Selain menambah berat beban, barang yang telalu banyak membuat kita kerepotan dan menghambat pergerakan. Satu peralatan dengan fungsi banyak jauh lebih gampang dibawa dibandingkan membawa satu alat untuk satu fungsi saja.

Susunlah EDC anda. Memilikinya namun tidak membutuhkannya jauh lebih baik daripada tidak memiliki disaat anda membutuhkannya. Hati-hati saja terjebeak dalam perangkap kapitalisme ketika berbelanja barang :p


Makassar, 02/04/14

03 December 2009

Telaga #2

Kau bentangkan lagi telaga itu di matamu.
Telaga yang sungguh tenang
Entah berapa dalamnya, entah apa yang ada di sana...entah, penuh misteri.
Kasihku, bagaimana bisa telaga tenang itu mengombang ambingkan perasaan ini?
mengaduk-aduknya, menjadikan gundah, perih menahan rindu tak tertahankan.

31 October 2009

Rumah

Mulanya saya sempat tertegun ketika seorang sahabat saat pertama kali melihat rumah sederhana kecil dihimpit rapat oleh dua rumah di sisi kiri-kanannya bertanya "rumahkah ini?". Makna dari pertanyaan ini tentu tidak sederhana, mungkin ada sejumlah kriteria dan definisi tentang rumah yang dimiliki oleh sahabat itu. Saya pun mencoba meraba-raba maksud dari pertanyaan itu.

Rumah adalah tempat dimana sebagian waktu kita dihabiskan, tempat yang bisa menerima segala kekurangan kita, tempat dimana sebagian besar hidup kita dijalani. Rumah adalah tempat kita berinteraksi, tempat kita kembali dan tempat kita bertumbuh-kembang. Lantas rumah yang sempit itu dengan pekarangan yang tidak begitu luas apakah kemudian pantas untuk dikatakan rumah yang humanis?. Saya kembali memperhatikan rumah kecilku itu. Apakah saya telah salah dalam mengambil keputusan membeli rumah itu? Pertimbangan apakah yang saya gunakan ketika memutuskan membeli rumah sekecil dan sesempit itu? Saya menghirup nikotin dari sebatang rokok dalam-dalam berusaha menemukan jawaban.

Rumah adalah potongan hati kita, sehingga saat membeli rumah, rasionalisasi kita tentu tidak memadai untuk menjawab apakah rumah itu benar-benar rumah atau bukan? pertanyaan pun berlanjut, 'kalau saya membeli dengan hati, lantas seperti apa hati saya ini? Saya harus punya penjelasan logis untuk saya sampaikan ke saudaraku itu.

Dua batang rokok tandas...

Rumah adalah potongan hati. Ketika kita mendefinisikan rumah sebatas bangunan beserta kavlingnya, sebatas itulah potongan hati kita. Memilih dimana rumah itu berada bagi saya jauh lebih penting karena sama dengan memilih di mana hati saya ini akan saya letakkan.

Saat ini umumnya perumahan dibangun dengan konsep cluster. Perumahan dengan konsep ini biasanya menyediakan banyak spasi untuk publik baik berupa taman, sarana bermain, pendidikan dan olahraga yang umumnya dapat diakses terbatas hanya oleh penghuni kompleks. Dengan demikian, apakah kriteria pekarangan rumah yang luas menjadi relevan? Tidak lagi. Kita dapat memanfaatkan spasi publik yang ada dalam kompleks sebagai pengganti pekarangan. Interaksi dengan tetangga pun dapat terjalin dengan baik karena kita maupun keluarga tidak lagi melulu mengandalkan pekarangan untuk bermain dan bersosialisasi.

Rumah dengan sistem cluster pun umumnya dilengkapi dengan fasilitas keamanan 24 jam. Sekalipun tingkat keamanannya tidak seratus persen, namum setidaknyai besi pengaman jendela dan pintu logam kini tidak lagi menjadi prioritas utama.

Lantas apakah hanya sebatas itu? hati saya ternyata masih meminta yang lebih. Lingkungan sosial di mana perumahan itu berada pun turut jadi pertimbangan. Perumahan yang memperhatikan kesejahteraan lingkungan sekitar dapat mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan bagi penghuni yang berada di dalam kompleks perumahan tersebut. Penduduk sekitar yang diberdayakan dan ditingkatkan taraf hidupnya tentu moralnya terhadap penghuni perumahan akan meningkat. Bayangkan sebuah perumahan mewah berada dilingkungan yang penduduknya miskin dan terbelakang, apakah ini tidak memicu timbulnya kerawanan bagi penduduk dalam kawasan perumahan? Dalam kondisi ekonomi yang timpang seperti itu, pencurian adalah resiko yang paling mungkin timbul akibat ketimpangan ini. Munculnya resiko-resiko lain pun sangat terbuka.

Jadi, memilih rumah setidaknya tidak cukup dilihat dari rumah itu sendiri saja melainkan juga harus dilihat pada aspek bagaimana rumah itu?

Salam
Epistemologia

07 October 2009

PEMERINTAH YANG TIDAK LAGI BEKERJA UNTUK RAKYATNYA

Pemadaman bergilir yang tejadi di Makassar dan sekitarnya menuai banyak protes dari masyarakat. Apalagi dosisnya menyamai dosis obat dalam sehari.

Lagu lama tentang kurangnya debit air, atau ada pembangkit yang mengalami gangguan rupanya tetap Hits dinyanyikan PLN saat menjawab pertanyaan akan penyebab utama pemadaman tersebut. Terlepas benar tidak dan klasiknya alasan itu, hanya PLN referensi terpercaya untuk itu. Untuk itu saya tidak ingin terlalu jauh membicarakannya di sini.

Yang menarik dari fenomena pemadaman adalah asumsi (belum cukup untuk dijadikan fakta) dominan yang berkembang di masyarakat mengenai penyebab utama terjadinya semua itu, yaitu -kehadiran Transstudio Makassar telah menyerap pasokan listrik yang ada dalam jumlah signifikan-. Asumsi ini dapat kita gunakan sebagai ilustrasi untuk menjembatani kita memahami bagaimana Pemerintah tidak lagi bekerja untuk rakyat melainkan bekerja untuk pemilik modal (Noreen Hertz).

Pasokan listrik yang ada masih kurang, dan menjadi semakin kurang dengan kehadiran TransStudio. Transstudio (TS) kenyataannya mungkin tidak menggunakan listrik yang disuplai PLN dalam jumlah besar, namun melihat megahnya bangunan tersebut (apalagi diklaim sebagai terbesar untuk kategori indoor) rasanya sulit membendung asumsi masyarakat bahwa gedung itu memang menyerap pasokan listrik yang sangat banyak. Apalagi bagi-bagi setrum ke TS tersebut telah mencederai rasa keadilan masyarakat karena pada sisi yang lain ribuan Rumah Sederhana Sehat tidak mendapat jatah listrik dari PLN. Lengkaplah alasan warga untuk menjadikan TS biang kerok Duka atas Kematian Listrik.

Apapun alasannya, pemerintah dalam memutuskan pilihan-pilihan investasi hendaklah didasarkan pada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Investasi secara teori dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang. Namun pada sisi lain kita tidak boleh menutup mata bahwa Investasi itu juga dapat menghilangkan peluang pertumbuhan ekonomi lain yang lebih besar bahkan mungkin pula justru merugikan rakyat. Sebagai contoh seandainya betul terjadi, memenuhi permintaan listrik TS dan mengabaikan kebutuhan listrik oleh ribuan Rumah Sederhana Sehat (RSH), adalah kebijakan yang dibuat terlalu terburu-buru. Pertumbuhan ekonomi yang diciptakan oleh Industri Rumah Tangga di ribuan RSH tersebut bisa jadi lebih tinggi dibanding ciptaan Transstudio. Untuk itu, pemerintah harusnya terlebih dahulu melakukan riset atas pilihan-pilihan investasi yang akan diambil.

Mengabaikan kebutuhan listrik rakyat kecil dan mendahulukan kebutuhan pemilik modal menunjukkan bahwa pemerintah tidak bekerja untuk rakyat tapi bekerja untuk pemilik modal. Bukankah pemerintah seharusnya bisa menekan investor untuk menyediakan pembangkit sendiri dan jika mungkin justru menjadi pemasok listrik untuk warga sekitar? Tapi rasanya pilihan ini sulit dilakukan oleh pemerintah.

Investor hanya akan menginvestasikan duitnya di daerah-daerah yang kebijakan pemerintahannya dianggap menguntungkan investasi (A Prasetyantoko). Kutub ini tarik-menarik dengan kutub lain dimana pemerintah dituntut untuk dapat menghadirkan investasi. Gayung pun bersambut. Demi menciptakan iklim investasi, pemerintah terkadang mengorbankan hak-hak rakyat kecil secara umum. Pajak rendah, upah minim adalah langkah-langkah yang umum ditempuh pemerintah dalam menciptakan iklim berinvestasi. Siapa di korbankan? Jawabnya rakyat kecil.

Dalam kasus TS Makassar kejadiannya setali tiga uang. Agar investasi tersebut bisa masuk, pemerintah melalui PLN harus bisa memasok kebutuhan TS akan kapasitas listrik yang besar. Kalau tidak, bisa-bisa investor membatalkan niatnya he..he.. Bagaimana mungkin bisa memaksa investor untuk mendirikan pembangkit listrik sendiri, apalagi yang bisa dibagi ke masyarakat? Pemerintah memang tidak punya daya tawar untuk itu karena takut pihak TS membatalkan niatnya menanamkan modal di Makassar.
Investasi menjelma menjadi kebutuhan pemerintah dan dengan begitu Investor punya posisi yang sangat kuat untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. Tentulah ujung-ujungnya untuk sebesar-besar keuntungan investor dan bukan kemakmuran rakyat. Itulah yang terjadi dengan nasib RSH. Terpaksa ribuan pemiliknya mengurut dada karena harus antri mendapatkan jatah listrik sampai tahun 2010. Begitulah pemerintah bekerja, untuk pemodal buka rakyatnya. Menjadikan konstituennya sebagai masyarakat kelas II.

01 January 2009

Selamat Tahun Baru

Ramai di luar sana. Langit malam berhias warna-warni cahaya. Malam ini adalah malam pergantian tahun, dan sejak dulu, malam pergantian tahun selalu diramaikan oleh pesta kembanga api. Ratusan, ribuan bahkan mungkin ratusan ribu kembang api di luncurkan ke kelamnya langit malam. Mungkin yang meluncurkan itu ingin memberi tanda kepada yang lain bahwa mereka tidak sendirian merayakan malam pergantian tahun, Entahlah.

Kilau cahaya kembang api itu menerobos gelapnya kamar kontrakanku yang lampunya padam. Selang bebarapa detik kemudian, suaran letupannya terdengar . kita pasti ingat pelajaran Fisika di sekolah bahwa kecepatan cahaya lebih tinggi dibanding suara. Itulah kenapa cahayanya lebih dulu sampai ke kamarku daripada suara letupannya. Cahaya, kemudian suara. Begitu terus menerus, berulang tidak teratur namun harmonis. Di tilam yang dingin aku menikmati semua itu.

Sedikit berbeda dengan tahun-tahun kemarin, di kompleks kontrakanku yang terbilang luas (100 kamar) kali ini tak ada suara terompet. Memang tak ada yang membunyikannya. Mereka mungkin terprovokasi oleh ucapanku sore kemarin yang mengatakan bahwa membunyikan terompet dulunya adalah tradisi bangsa Israel dalam merayakan malam tahun baru. Padahal, sy sendiri belum meyakini kebenaran atas ucapanku itu. Tapi begitulah, karena ada berbau Israel di sana sehingga perlu disingkirkan.

Israel dalam rentang pergantian tahun 1430 penanggalan Hijriah sampai denga tahun baru Masehi telah menjadi Negara antagonis. Negara itu telah dengan angkuh memborbadir pemukiman penduduk di Gaza. Sebuah serangan skala besar dilancarkan terhadap mereka yang tak berdaya. Roket berhulu ledak dalam jumlah massif diluncurkan. Cahaya dan ledakan yang ditimbulkannya tentu tidak bisa dibandingkan dengan meriahnya pesta kembang api di atas. Ledakan itu merusak, memporak-porandakkan dan hanya menyisakan tangis pilu (Israelnya senyum-senyum). Banyak korban jiwa, luka-luka bahkan anak kecil dan kaum perempuan turut jadi korban.

Begitulah Israel sesungguhnya ditakdirkan. Sebuah bangsa yang -maaf- tengik, sehingga segala yang berbau tentangya adalah busuk dan perlu dimusnahkan. Termasuk kebiasaan tiup trompet. Tak perlu lagi dibuktikan kebenarannya karena sudah ada bau busuk di sana.

Mari rayakan tahun baru dengan sederhana. Tak ada tiup terompet, namun penuh harapan dan cita-cita khususnya untuk rakyat Palestina.

Selamat Tahun Baru.

Tamalanrea, 1 Januari 2009 00:36

06 November 2008

Banjir Bandang


Air bah itu tiba-tiba saja datang. Merendam rumah-rumah disekitar aliran sungai yang melintas membelah kota Palopo. Keramaian malam tiba-tiba saja berubah menjadi cekam disertai tangis pilu warga yang tak sempat lagi menyelamatkan harta bendanya. Seorang bapak paruh baya tak mampu membendung tangis saat tahu anaknya tewas terbawa arus. Listrik yang padam memperburuk keadaan.... tak banyak yang bisa diperbuat warga ditengah gulita.

Derasnya aliran air yang disertai lumpur dan bongkahan kayu mengakibatkan dua jembatan yang letaknya di pusat keramaian tak dapat lagi difungsikan. Salah satunya adalah jembatan protokol yang selalu ramai dilintasi kendaraan. Salah satu rumah sakit swasta terpaksa mengevakuasi pasiennya ke lantai dua. Rumah-rumah penduduk dan beberapa fasilitas publik rusak parah diterjang bongkahan kayu yang terbawa arus. Sepertiga pusat kota Palopo terendam air bercampur lumpur. Malam ini, tak banyak yang bisa diperbuat selain mencari tempat untuk tidur, pasrah dan berdoa.

Tapi, dari manakah semua itu datangnya? Begitu cepat dan senyap. Hujan rinai yang mengguyur kota malam itu tentu tak cukup menjadikan banjir seperti ini. Mungkin ada yang salah dengan alam di kota ini. Mungkin kita lupa menjaga alam ini sehingga ia tidak lagi menjaga kita.

Esok Paginya; Kota yang selalu membangga-banggakan Adipuranya ini, kini kotor belumpur. Mungkin kriteria penilaian untuk meraih Adipura pun harus dirubah. Kota yang pantas meraih adipura adalah kota yang juga memelihara daerah periferinya sehingga tidak mendatangkan bencana di pusat kota dalam hitunga menit bahkan detik.

Tugas anda semakin berat Opu Wali.