21 September 2005

REUNI, HARAPAN DAN BULE

Kami berkumpul lagi sore kemarin. Saya dan beberapa kawan semasa kuliah dulu. Biasanya jika berkumpul seperti ini, dengan ditemani beberapa gelas kopi, kami berbagi tentang kenangan hari kemarin dan berangan-angan sekenanya tentang apa yang mungkin bagi kami sebentar dan besok-besok. Begitulah kami selalunya setelah penat dengan rutinitas kami masing.

Sedikit beda dengan biasanya, sore kemarin kami tidak lagi berbincang tentang hal-hal yang sifatnya regular dan itupun hanya sesekali diselangi dengan guyonan yang menurutku garing. Sore itu kami begitu larut dalam emosi kami masing-masing. Ini mungkin reuni yang terakhir hingga beberapa tahun ke depan gumamku. Seorang kawan, sahabat dan juga saudara kami, akan pergi meninggalkan kami dan kampung ini (Makassar). Untuk sebuah masa depan yang lebih baik tentunya , masa depan ia, dan juga masa depan kami. ABDULLAH SANUSI.

Pergilah kawan! Lengakpilah bab-bab yang tersisa dalam hidupmu dengan kisahmu di kampung orang. Dan setelah kau temukan yang kau cari PULANGLAH.

Untuk diingat! Jangan pulang bawa bule!

Kawan yang baik menggugat

Kawan yang baik menggugat. Kenapa tak ada berita di sini?

Pojokkamar adalah tempat yang mungkin paling sering diabaikan. Coba di ingat-ingat, seberapa intens-kah interaksi kita dengan titik bertemunya tiga rusuk kamar kita ini?. Yang dominan hadir dalam pintasan khayal kita hanyalah debu atau mungkin sulaman jaring laba-laba. Di kamar kontrakanku lebih parah lagi, yang ada disana hanyalah tumpukan sampah dan kertas bekas bungkusan nasi.

Menurutku, pojokkamar adalah tempat yang paling sepi dalam hidup kita. Ia adalah tempat yang paling sering kita abaikan. Di “Pojokkamar” ini pun demikian, aku selalu mengabaikannya. Lagipula, tak banyak kisahku yang pantas untuk dipungut, dikenang dan diletakkan di sini.

Maaf kawan, hari ini tak ada kabar!.

23 August 2005

Going Home

malam ini... akhirnya kutemukan juga kunci ke tempat ini, setelah berhari-hari aku kehilangannya.

fiuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhh!

07 June 2005

Sirene

Sirene yang meraung-raung itu memaksa kendaraan lain buru-buru menepi. Ini bukanlah raungan sirene patroli yang sedang mengejar penjahat seperti adegan yang biasa kita saksikan di film-film. Juga bukanlah konvoi kendaraan pemadam kebakaran yang berusaha untuk segera tiba di lokasi terjadinya kebakaran. Ini hanyalah raungan sirene dari sebuah Mitsubishi Pajero bernomor polisi hitam dengan kode belakang yang sebagian orang sudah tahu bahwa itu adalah kendaraan milik "pemerintah".

Entah atas dasar apa sehingga banyak kendaraan sekarang ini merasa perlu dan berhak menggunakan sirene yang lazimnya digunakan hanya untuk keperluan darurat. Adakah payung hukum yang membolehkan penggunaan sirene di jalan raya untuk keperluan pribadi.? atau....mungkin memang ada, hanya saya saja yang tidak pernah tahu akan pembolehan itu.

Ketidak tahuan saya hanya mampu mengantarkan saya pada pemahaman bahwa setiap kendaraan memiliki hak sama atas badan jalan sepanjang itu memenuhi aturan berlalu lintas. Kalau pun harus ada pembedaan, maka yang paling berhak atas badan jalan adalah PT2(angkot) yang setiap hari dengan rutin memenuhi tagihan retribusinya, dan masyarakat yang membayarkan pajaknya. Bukan kendaraan pemerintah yang justru dibiayai dari pungutan yang ditarik dari masyarakat. Simpulku secara instan melihat kejadian malam ini.

Lalu......
Prang....! kaca balakang mobil itu remuk terkena lemparan batu

Setidaknya, saya tidak sendirian berkesimpulan demikian, pikirku.
Sambil tersenyum aku segera masuk ke salah satu warnet di depan pintu satu UNHAS.