Kami berkumpul lagi sore kemarin. Saya dan beberapa kawan semasa kuliah dulu. Biasanya jika berkumpul seperti ini, dengan ditemani beberapa gelas kopi, kami berbagi tentang kenangan hari kemarin dan berangan-angan sekenanya tentang apa yang mungkin bagi kami sebentar dan besok-besok. Begitulah kami selalunya setelah penat dengan rutinitas kami masing.
Sedikit beda dengan biasanya, sore kemarin kami tidak lagi berbincang tentang hal-hal yang sifatnya regular dan itupun hanya sesekali diselangi dengan guyonan yang menurutku garing. Sore itu kami begitu larut dalam emosi kami masing-masing. Ini mungkin reuni yang terakhir hingga beberapa tahun ke depan gumamku. Seorang kawan, sahabat dan juga saudara kami, akan pergi meninggalkan kami dan kampung ini (Makassar). Untuk sebuah masa depan yang lebih baik tentunya , masa depan ia, dan juga masa depan kami. ABDULLAH SANUSI.
Pergilah kawan! Lengakpilah bab-bab yang tersisa dalam hidupmu dengan kisahmu di kampung orang. Dan setelah kau temukan yang kau cari PULANGLAH.
Untuk diingat! Jangan pulang bawa bule!
21 September 2005
Kawan yang baik menggugat
Kawan yang baik menggugat. Kenapa tak ada berita di sini?
Pojokkamar adalah tempat yang mungkin paling sering diabaikan. Coba di ingat-ingat, seberapa intens-kah interaksi kita dengan titik bertemunya tiga rusuk kamar kita ini?. Yang dominan hadir dalam pintasan khayal kita hanyalah debu atau mungkin sulaman jaring laba-laba. Di kamar kontrakanku lebih parah lagi, yang ada disana hanyalah tumpukan sampah dan kertas bekas bungkusan nasi.
Menurutku, pojokkamar adalah tempat yang paling sepi dalam hidup kita. Ia adalah tempat yang paling sering kita abaikan. Di “Pojokkamar” ini pun demikian, aku selalu mengabaikannya. Lagipula, tak banyak kisahku yang pantas untuk dipungut, dikenang dan diletakkan di sini.
Maaf kawan, hari ini tak ada kabar!.
Pojokkamar adalah tempat yang mungkin paling sering diabaikan. Coba di ingat-ingat, seberapa intens-kah interaksi kita dengan titik bertemunya tiga rusuk kamar kita ini?. Yang dominan hadir dalam pintasan khayal kita hanyalah debu atau mungkin sulaman jaring laba-laba. Di kamar kontrakanku lebih parah lagi, yang ada disana hanyalah tumpukan sampah dan kertas bekas bungkusan nasi.
Menurutku, pojokkamar adalah tempat yang paling sepi dalam hidup kita. Ia adalah tempat yang paling sering kita abaikan. Di “Pojokkamar” ini pun demikian, aku selalu mengabaikannya. Lagipula, tak banyak kisahku yang pantas untuk dipungut, dikenang dan diletakkan di sini.
Maaf kawan, hari ini tak ada kabar!.
Subscribe to:
Posts (Atom)
