Mulanya saya sempat tertegun ketika seorang sahabat saat pertama kali melihat rumah sederhana kecil dihimpit rapat oleh dua rumah di sisi kiri-kanannya bertanya "rumahkah ini?". Makna dari pertanyaan ini tentu tidak sederhana, mungkin ada sejumlah kriteria dan definisi tentang rumah yang dimiliki oleh sahabat itu. Saya pun mencoba meraba-raba maksud dari pertanyaan itu.
Rumah adalah tempat dimana sebagian waktu kita dihabiskan, tempat yang bisa menerima segala kekurangan kita, tempat dimana sebagian besar hidup kita dijalani. Rumah adalah tempat kita berinteraksi, tempat kita kembali dan tempat kita bertumbuh-kembang. Lantas rumah yang sempit itu dengan pekarangan yang tidak begitu luas apakah kemudian pantas untuk dikatakan rumah yang humanis?. Saya kembali memperhatikan rumah kecilku itu. Apakah saya telah salah dalam mengambil keputusan membeli rumah itu? Pertimbangan apakah yang saya gunakan ketika memutuskan membeli rumah sekecil dan sesempit itu? Saya menghirup nikotin dari sebatang rokok dalam-dalam berusaha menemukan jawaban.
Rumah adalah potongan hati kita, sehingga saat membeli rumah, rasionalisasi kita tentu tidak memadai untuk menjawab apakah rumah itu benar-benar rumah atau bukan? pertanyaan pun berlanjut, 'kalau saya membeli dengan hati, lantas seperti apa hati saya ini? Saya harus punya penjelasan logis untuk saya sampaikan ke saudaraku itu.
Dua batang rokok tandas...
Rumah adalah potongan hati. Ketika kita mendefinisikan rumah sebatas bangunan beserta kavlingnya, sebatas itulah potongan hati kita. Memilih dimana rumah itu berada bagi saya jauh lebih penting karena sama dengan memilih di mana hati saya ini akan saya letakkan.
Saat ini umumnya perumahan dibangun dengan konsep cluster. Perumahan dengan konsep ini biasanya menyediakan banyak spasi untuk publik baik berupa taman, sarana bermain, pendidikan dan olahraga yang umumnya dapat diakses terbatas hanya oleh penghuni kompleks. Dengan demikian, apakah kriteria pekarangan rumah yang luas menjadi relevan? Tidak lagi. Kita dapat memanfaatkan spasi publik yang ada dalam kompleks sebagai pengganti pekarangan. Interaksi dengan tetangga pun dapat terjalin dengan baik karena kita maupun keluarga tidak lagi melulu mengandalkan pekarangan untuk bermain dan bersosialisasi.
Rumah dengan sistem cluster pun umumnya dilengkapi dengan fasilitas keamanan 24 jam. Sekalipun tingkat keamanannya tidak seratus persen, namum setidaknyai besi pengaman jendela dan pintu logam kini tidak lagi menjadi prioritas utama.
Lantas apakah hanya sebatas itu? hati saya ternyata masih meminta yang lebih. Lingkungan sosial di mana perumahan itu berada pun turut jadi pertimbangan. Perumahan yang memperhatikan kesejahteraan lingkungan sekitar dapat mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan bagi penghuni yang berada di dalam kompleks perumahan tersebut. Penduduk sekitar yang diberdayakan dan ditingkatkan taraf hidupnya tentu moralnya terhadap penghuni perumahan akan meningkat. Bayangkan sebuah perumahan mewah berada dilingkungan yang penduduknya miskin dan terbelakang, apakah ini tidak memicu timbulnya kerawanan bagi penduduk dalam kawasan perumahan? Dalam kondisi ekonomi yang timpang seperti itu, pencurian adalah resiko yang paling mungkin timbul akibat ketimpangan ini. Munculnya resiko-resiko lain pun sangat terbuka.
Jadi, memilih rumah setidaknya tidak cukup dilihat dari rumah itu sendiri saja melainkan juga harus dilihat pada aspek bagaimana rumah itu?
Salam
Epistemologia
31 October 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment