06 November 2008

Banjir Bandang


Air bah itu tiba-tiba saja datang. Merendam rumah-rumah disekitar aliran sungai yang melintas membelah kota Palopo. Keramaian malam tiba-tiba saja berubah menjadi cekam disertai tangis pilu warga yang tak sempat lagi menyelamatkan harta bendanya. Seorang bapak paruh baya tak mampu membendung tangis saat tahu anaknya tewas terbawa arus. Listrik yang padam memperburuk keadaan.... tak banyak yang bisa diperbuat warga ditengah gulita.

Derasnya aliran air yang disertai lumpur dan bongkahan kayu mengakibatkan dua jembatan yang letaknya di pusat keramaian tak dapat lagi difungsikan. Salah satunya adalah jembatan protokol yang selalu ramai dilintasi kendaraan. Salah satu rumah sakit swasta terpaksa mengevakuasi pasiennya ke lantai dua. Rumah-rumah penduduk dan beberapa fasilitas publik rusak parah diterjang bongkahan kayu yang terbawa arus. Sepertiga pusat kota Palopo terendam air bercampur lumpur. Malam ini, tak banyak yang bisa diperbuat selain mencari tempat untuk tidur, pasrah dan berdoa.

Tapi, dari manakah semua itu datangnya? Begitu cepat dan senyap. Hujan rinai yang mengguyur kota malam itu tentu tak cukup menjadikan banjir seperti ini. Mungkin ada yang salah dengan alam di kota ini. Mungkin kita lupa menjaga alam ini sehingga ia tidak lagi menjaga kita.

Esok Paginya; Kota yang selalu membangga-banggakan Adipuranya ini, kini kotor belumpur. Mungkin kriteria penilaian untuk meraih Adipura pun harus dirubah. Kota yang pantas meraih adipura adalah kota yang juga memelihara daerah periferinya sehingga tidak mendatangkan bencana di pusat kota dalam hitunga menit bahkan detik.

Tugas anda semakin berat Opu Wali.

No comments: