Tanjung Ringgit
Kali ini saya lebih memilih untuk memandangi ombak dilaut seraya membelakangi matahari yang sebentar lagi terbenam dibalik bukit, tepat dibelakangku. Mengapa? Sekedar mencoba melapangkan hati seperti laut dan meninggalkan keangkuhannya yang setinggi gunung? Ah, terlalu idealis! Pengen saja, ini kan pelabuhan. Memang di tepi laut.
Seminggu yang lalu saya juga ke tempat ini. Tapi waktu itu dengan seorang teman yang kebetulan datang dari Makassar. Bahkan minggu-minggu sebelumnya pun saya ke tempat ini, …….sangat sering. Habis ke mana lagi? Tak banyak tempat untuk sekedar membuang sepi ataupun melepas jenuh di kota Palopo ini. Yang terdekat hanyalah di sini.
Disinilah waktuku selalu kuhabiskan berjam-jam jika sedang berusaha mencoba menghidari banyak hal. Termasuk yang kali ini kulakukan, menghindari kenangan bersama perempuan di masa laluku yang kini bayangnya seolah datang menagih-nagih ingatanku. Perempuan yang pernah mengajariku betapa sakitnya terbuang, jatuh dan terluka. Obsesi yang begitu besar akan diri dan pesonanya sungguh mebuatku terpuruk kala itu.
Sakit, sangat sakit memang luka itu. Tapi, meski dengan luka, aku masih harus meneruskan hidupku agar kelak aku bisa melihat ia begitu menyesali kesalahan terbesar dalam hidupnya. (maaf, sedikit narsis)
Matahari telah terbenam dibalik bukit.
‘time to go home’
26 September 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment